Teori mengukur Management krisis
Gejala krisis yang berpotensi
terjadi dalam suatu lembaga, perusahaan atau organisasi, sejatinya dapat diukur
dan diketahui dengan baik. Hal ini bertujuan untuk mengatisipasi potensi krisis
yang berdampak buruk terjadi. Maka dalam management krisis kita akan mengenal
teori yang digunakan untuk mengukur perkembangan krisis dan bagaimana mengatasi
hal tersebut dengan baik. Berikut adalah langkah demi langkah untuk mengentahui perkembangan atau seberapa besar potensi masalah yang terjadi dalam lembaga,
perusahaan atau organisasi:
1.
Tahap Prodormal
Pada tahap dasar ini dapat dikatakan
sebagai situasi stabil, tidak ada gejolak permasalahan yang berpotensi pada
sisi krisis. Pada tahap ini situasi lembaga, perusahaan atau organisasi
berjalan dengan baik.
2.
Tahap Akut
Di tahap akut ini, kita akan mulai
mengetahui permasalahan demi permasalahan yang muncul kepermukaan. Pada tahap
ini sangat penting untuk ditanggani dengan secermat mungkin. Saat lembaga,
perusahaan atau organisasi mampu menyelesaikan masalah yang muncul pada tahap
ini, maka situasi internal akan kembali stabil dan membaik. Namun, jika pada
tahap akut ini, gagal dalam menaggani masalah yang mulai muncul atau tidak
memperdulikan. Maka akan berpotensi menjadi masalah besar yang lebih sulit
untuk diatasi.
3.
Tahap Kronis
Kemudian pada tahap inilah, yang
dikatakan sebagai “krisis” timbul dan menjadi masalah besar bagi suatu
kelembagaan. Dan pilihannya pun hanya ada dua di tahap ini, yakni melakukan
perubahan dari sistem yang sudah ada atau kelembagaan tersebut akan hancur atau
tutup tidak beroperasi lagi.
Pada tahap krisis ini, peran seorang
pemimpin yang otoriter sangat menjadi peran yang berpengaruh, sebab dibutuhkan
keputusan yang cepat dan cermat. Jika terlalu lama memakan waktu yang lama
untuk mengatasi masalah krisis, maka permasalahan akan semakin runcing dan
sukar untuk diselesaikan. Selain itu, kepemimpinan dalam menghadapi krisis ini,
tidak harus memandang siapa yang menaggani krisis tersebut. Namun, akan dilihat
siapa yang ahli untuk menghadapi krisis tersebut. Walaupun dia seorang satpam, namun jika dia yang memiliki potensi untuk melawan krisis, maka dialah yang akan menjadi pemimpin sementara dalam kelembagaan untuk menghadapi krisis, sebab dia yang lebih paham dari
yang lainnya.
4.
Intervensi
Pada tahap ini, adalah suatu tahap
dilakukannya tindakan-tindakan untuk memulihkan situasi dari krisis. Saat
intervensi itu dilakukan dengan cermat dan efektif. Maka keadaan krisis akan
dapat dikendalikan dan situasi dapat kembali seperti semula. Namun, saat
intervensi gagal maka krisispun tidak akan berujung berakhir. Namun saat tiada
potensi untuk dilakukannya intervensi, misalnya masalah sudah sangat krusial,
maka pilihan terakhir yakni menutup atau berhenti beroperasi.
5.
Tahap Resolusi
Pada tahap terakhir ini ialah tahap
diamana masa krisis dapat di intervensi dengan baik, sehingga situasi keadaan
dari krisis dapat ditanggulangi dan sitausi pun kembali pada masa pradormal.
Biasanya saat kelembagaan memasuki tahap Resolusi, akan lebih cermat dan teliti
dalam menjalankan kelembagaannya agar tidak terulang masa krisis. Di sini lah banyak masa-masa perombakan yang ditujukkan untuk
menghindari lagi hal yang tidak diinginkan.
Dikala suatu kelembagaan dapat
memahami dengan baik teori untuk mengukur management krisis seperti di atas,
maka pihaknya akan lihai saat menghadapi krisis. Oleh sebab itu, tim
penangganan krisis dalam suatu kelembagaan sangat berperan penting. Sebab
krisis itu sendiri muncul tanpa di duga dan dapat datang kapan saja. Namun saat
memiliki tim penangganan krisis akan lebih mudah untuk dihadapi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar