Rabu, 25 Mei 2016




            
Teori mengukur Management krisis         

         Gejala krisis yang berpotensi terjadi dalam suatu lembaga, perusahaan atau organisasi, sejatinya dapat diukur dan diketahui dengan baik. Hal ini bertujuan untuk mengatisipasi potensi krisis yang berdampak buruk terjadi. Maka dalam management krisis kita akan mengenal teori yang digunakan untuk mengukur perkembangan krisis dan bagaimana mengatasi hal tersebut dengan baik. Berikut adalah langkah demi langkah untuk mengentahui perkembangan atau seberapa besar potensi masalah yang terjadi dalam lembaga, perusahaan atau organisasi:
1. Tahap Prodormal
         Pada tahap dasar ini dapat dikatakan sebagai situasi stabil, tidak ada gejolak permasalahan yang berpotensi pada sisi krisis. Pada tahap ini situasi lembaga, perusahaan atau organisasi berjalan dengan baik.
2. Tahap Akut
        Di tahap akut ini, kita akan mulai mengetahui permasalahan demi permasalahan yang muncul kepermukaan. Pada tahap ini sangat penting untuk ditanggani dengan secermat mungkin. Saat lembaga, perusahaan atau organisasi mampu menyelesaikan masalah yang muncul pada tahap ini, maka situasi internal akan kembali stabil dan membaik. Namun, jika pada tahap akut ini, gagal dalam menaggani masalah yang mulai muncul atau tidak memperdulikan. Maka akan berpotensi menjadi masalah besar yang lebih sulit untuk diatasi.
3. Tahap Kronis
          Kemudian pada tahap inilah, yang dikatakan sebagai “krisis” timbul dan menjadi masalah besar bagi suatu kelembagaan. Dan pilihannya pun hanya ada dua di tahap ini, yakni melakukan perubahan dari sistem yang sudah ada atau kelembagaan tersebut akan hancur atau tutup tidak beroperasi lagi.
     Pada tahap krisis ini, peran seorang pemimpin yang otoriter sangat menjadi peran yang berpengaruh, sebab dibutuhkan keputusan yang cepat dan cermat. Jika terlalu lama memakan waktu yang lama untuk mengatasi masalah krisis, maka permasalahan akan semakin runcing dan sukar untuk diselesaikan. Selain itu, kepemimpinan dalam menghadapi krisis ini, tidak harus memandang siapa yang menaggani krisis tersebut. Namun, akan dilihat siapa yang ahli untuk menghadapi krisis tersebut. Walaupun dia seorang satpam, namun jika dia yang memiliki potensi untuk melawan krisis, maka dialah yang akan menjadi pemimpin sementara dalam kelembagaan untuk menghadapi krisis, sebab dia yang lebih paham dari yang lainnya.
4. Intervensi
        Pada tahap ini, adalah suatu tahap dilakukannya tindakan-tindakan untuk memulihkan situasi dari krisis. Saat intervensi itu dilakukan dengan cermat dan efektif. Maka keadaan krisis akan dapat dikendalikan dan situasi dapat kembali seperti semula. Namun, saat intervensi gagal maka krisispun tidak akan berujung berakhir. Namun saat tiada potensi untuk dilakukannya intervensi, misalnya masalah sudah sangat krusial, maka pilihan terakhir yakni menutup atau berhenti beroperasi.
5. Tahap Resolusi
         Pada tahap terakhir ini ialah tahap diamana masa krisis dapat di intervensi dengan baik, sehingga situasi keadaan dari krisis dapat ditanggulangi dan sitausi pun kembali pada masa pradormal. Biasanya saat kelembagaan memasuki tahap Resolusi, akan lebih cermat dan teliti dalam menjalankan kelembagaannya agar tidak terulang masa krisis. Di sini lah banyak masa-masa perombakan yang ditujukkan untuk menghindari lagi hal yang tidak diinginkan.

            Dikala suatu kelembagaan dapat memahami dengan baik teori untuk mengukur management krisis seperti di atas, maka pihaknya akan lihai saat menghadapi krisis. Oleh sebab itu, tim penangganan krisis dalam suatu kelembagaan sangat berperan penting. Sebab krisis itu sendiri muncul tanpa di duga dan dapat datang kapan saja. Namun saat memiliki tim penangganan krisis akan lebih mudah untuk dihadapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar